Menulis

June 11th, 2008 by heidyhelena

Banyak hal yang mau aku tuangkan dalam tulisan, tapi entah kapan itu bisa. aku tak tahu… aku terlalu simple dan cuek untuk hal-hal seperti itu.

Aku menangis untuk adikku

September 20th, 2007 by heidyhelena
Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat
terpencil. Hari demi hari, orangtuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatan membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut
di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. "Siapa yang mencuri uang itu?" beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapapun mengaku, jadi beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!" Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!" Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marah, sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!" Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, aku tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi." Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11. Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, aku diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Aku mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik. Hasil yang begitu baik." Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?" Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, saya telah cukup membaca banyak buku." Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti ayah mesti mengemis di jalanan, ayah akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!" Kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak. Aku berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya. Kalau tidak, ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku, "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimmu uang." Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga di universitas. Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!" Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kalau kamu adalah adikku?" Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu? " Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apapun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu. "Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu." Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23. Kali pertama aku pulang ke rumah setelah menghadiri undangan pernikahan seorang teman, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!" Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu." Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit salep pada lukanya dan membalut lukanya. "Apakah itu sakit?" aku menanyakannya. "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…" Di tengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26. Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Seringkali suamiku dan aku mengundang orangtuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, dia mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu saja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini." Saat Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, ketika adikku sedang di atas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ia mendapat sengatan listrik, lalu masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, aku menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?" Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak ipar, ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?" Mata suamiku dipenuhi air mata. Kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah, "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!" Lalu ia berkata, "Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29. Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?" Tanpa berpikir, ia menjawab, "Kakak saya." Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika saya pergi sekolah SD, sekolah kami ada di dusun yang berbeda. Setiap hari kakak dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Sedangkan ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya." Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.
(Diterjemahkan dari "I Cried for My Brother Six Times" Teruntuk adik-adikku tercinta; Tb. M. Hafiz Abdul Haq, Ratu Fatimah Az-Zahra, dan Tb. Rijal Al-Haq, kakak sayang dan rindu kalian)

Ramadhan Cinta

September 12th, 2007 by heidyhelena

Ramadhan Cinta

Dan, ramadhan kembali tiba

Sudah siapkah kita menyambutnya..?
Tentu, setiap diri kita punya jawaban
masing-masing. Jawaban yang
berbeda-beda. Sungguh beruntung mereka
yang penuh suka cita menyambutnya,
dengan perasaan senang karena
dipertemukan lagi dengan bulan yang
mulia ini. Merugi, mereka yang biasa
saja, bermalas-malas menyambutnya,
apalagi mereka yang tak senang atau
merasa terkekang karenanya. Padahal
kalau kita memahaminya, sungguh banyak
hikmah yang bisa petik pada setiap
ramadhan tiba.

Di dalam hadits Qudsi, Allah SWT
berfirman Puasa itu untuk-Ku dan Aku
yang akan membalasanya
(Muttafaqunalaih). Dalam dimensi ini,
kita memaknai bagaimana ibadah puasa
adalah ibadah khusus. Ini adalah
kesempatan kita untuk membuktikan cinta,
kerendahan hati seorang hamba kepada
sang khalik. Apa yang kita lakukan,
puasa yang kita lakukan di bulan
ramadhan, Dialah yang akan membalasnya.
Bulan ini juga memberi kesempatan kita
terhapus atas segala dosa-dosa kita.
Doa-doa ampunan atas segala kesalahan
terkabulkan, tentu dengan semangat
pengharapan terdalam dari diri kita.

Lewat perantaraan Rasulullah, juga
disebutkan tentang keistemewaan orang
yang berpuasa  Sesungguhnya di surga
ada satu pintu bernama Al-Rayyan, dari
pintu ini akan masuk orang-orang yang
berpuasa pada hari kiamat, tidak ada
siapapun selain mereka yang akan
memasuki pintu ini, dikatakan, mana
orang-orang yang berpuasa..? Lalu mereka
semua berdiri, tidak ada satupun yang
memasuki pintu ini, jika orang-orang
yang berpuasa telah masuk, maka pintu
itu ditutup, sehingga tidak ada seorang
pun selain mereka yang memasukinya.
(Muttafaqunlaih).

Inilah dimensi transendental. Dimensi
keTuhanan. Allah SWT telah menjanjikan
kepada hambanya dengan kenikmatan kelak
di kemudian hari jika benar-benar
melakukan ibadah puasa dengan
semestinya, sesuai sunnah-sunnah yang
diajarkan Rasulullah. Maka, tak ada yang
kita lakukan, selain kita memaknai bulan
ini dengan bulan pembuktian cinta kita.
Kita isi hari-hari puasa kita dengan
ibadah-ibadah untuk semakin mendekatkan
diri kita kepada Allah SWT. Bukan untuk
apa-apa, semata-mata untuk meraih
keridhoan Allah saja.

Lantas, bagaimana dimensi
kemanusiaannya..? Puasa, sebenarnya ada
wujud solidaritas kemanusiaan. Sebulan
penuh kita melakukan puasa, menahan
lapar dan haus sepanjang pagi dan siang.
Makna yang bisa kita ambil sebenarnya
melatih kepekaan sosial kita, kepedulian
kita kepada sesama. Kita, mungkin hanya
sebulan merasakan lapar dan dahaga, tapi
diluar sana, bisa jadi teramat banyak
yang setiap hari menahan lapar, sudah
terbiasa hidup dengan amat kesulitan dan
memprihatinkan. Para pengemis itu,
gelandangan itu, buruh-buruh kasar itu,
orang-orang pinggiran kota itu, petani
miskin itu.

Sungguh inilah bulan pembuktian cinta
kita kepada sesama. Melihat dengan mata
hati kita, teramat bersyukur kita
sebenarnya. Sepanjang pagi dan siang
mungkin kita sama-sama menahan lapar.
Tapi ketika sore tiba, saat berbuka
puasa, makanan-makanan enak toh masih
sempat kita santap. Tidakkah kita pantas
bersyukur karenanya? Bagaimana
pembuktiannya, salah satunya adalah
dengan derma kita untuk sesama, semangat
untuk memberi dan berbagi dengan sesama.
Kita asah mata hati kita untuk lebih
peka atas nasib dan penderitaan orang
lain. Lantas, kita berikan kebahagiaan
sepanjang kita bisa untuk mereka.
Membuat mereka sejenak tersenyum.

Demikianlah ramadhan cinta menyapa kita,
tidakkah kita merindukannya..?

Marhaban ya Ramadhan

September 12th, 2007 by heidyhelena

Cinta sejati seperti hantu. Semua orang
membicarakannya, tetapi sedikit sekali
yang benar-benar pernah melihatnya. Ah,
jangan-jangan kalimat ini benar.
Bagaimana kita akan menemukannya, jika
setiap kali melihat seseorang yang
rupawan kita "merasakan sesuatu",
"menyukainya". Setiap kali berinteraksi
dengan seseorang yang menarik (entah
apapun alasannya), kita selalu mendadak
merasakan getar-cinta. Bagaimana kita
akan menemukannya jika kita begitu saja
jatuh cinta. Menjadikan cinta seperti
memungut bebatuan di pinggir kali.
Banyak betebaran. Bosan bisa dilemparkan
jauh-jauh. Kurang, tinggal masukkan batu
yang lain ke dalam kantong lainnya.
Apakah perangai seperti itu disebut
cinta? Tentu saja bagi mereka juga
cinta. Tetapi cinta sejati mungkin tak
pernah sesederhana bebatuan.

Pekenankanlah aku mencintaimu

September 12th, 2007 by heidyhelena

Perkenankanlah aku mencintaimu
seperti ini
tanpa kekecewaan yang berarti
harapan-harapan yang setiap kali
dikecewakan kenyataan
biarlah dibayar oleh harapan-harapan
baru yang menjanjikan

Perkenankanlah aku mencintaimu
semampuku
menyebut-nyebut namamu
dalam kesendirian pun lumayan
berdiri di depan pintumu tanpa harapan
kau membukakannya pun terasa nyaman
sekali-kali membayangkan kau memperhatikanku
pun cukup memuaskan
perkenankanlah aku mencintaimu sebisaku…

Cinta??

June 3rd, 2007 by heidyhelena

Eumm..cinta?? cinta itu sebenarnya apa seh? Ada yg bilang kalo cinta itu buta, cinta itu persahabatan, dll. Menurutku ndak ada yg salah ma definisi cinta tsb, itu semua tergantung dari orang yg merasakan n mempersepsikannya..tp yg paling penting lagi, pada siapa cinta itu diperuntukkan. Pernah dengar lagunya Boys 2 man yg liriknya "The colour of love, is in you..?" ( ne lagu cinta pertamaku u/NYa n u/ semua makhluknya..yg dalam bahasa arab Ana uhibbuki/kafillah n dalam bahasa inggrisnya I love u coz AJJ1). Ingat, cintailah sesuatu itu hanya karena AJJ1 semata, krn dengan spt itu maka cinta qta i.AJJ1 akan indah…

Ada yg bs nambahin ndak definisi cinta yg sebenarnya itu spt apa?