Menulis
June 11th, 2008 by heidyhelenaBanyak hal yang mau aku tuangkan dalam tulisan, tapi entah kapan itu bisa. aku tak tahu… aku terlalu simple dan cuek untuk hal-hal seperti itu.
Banyak hal yang mau aku tuangkan dalam tulisan, tapi entah kapan itu bisa. aku tak tahu… aku terlalu simple dan cuek untuk hal-hal seperti itu.
Ramadhan Cinta
Dan, ramadhan kembali tiba
Sudah siapkah kita menyambutnya..?
Tentu, setiap diri kita punya jawaban
masing-masing. Jawaban yang
berbeda-beda. Sungguh beruntung mereka
yang penuh suka cita menyambutnya,
dengan perasaan senang karena
dipertemukan lagi dengan bulan yang
mulia ini. Merugi, mereka yang biasa
saja, bermalas-malas menyambutnya,
apalagi mereka yang tak senang atau
merasa terkekang karenanya. Padahal
kalau kita memahaminya, sungguh banyak
hikmah yang bisa petik pada setiap
ramadhan tiba.
Di dalam hadits Qudsi, Allah SWT
berfirman Puasa itu untuk-Ku dan Aku
yang akan membalasanya
(Muttafaqunalaih). Dalam dimensi ini,
kita memaknai bagaimana ibadah puasa
adalah ibadah khusus. Ini adalah
kesempatan kita untuk membuktikan cinta,
kerendahan hati seorang hamba kepada
sang khalik. Apa yang kita lakukan,
puasa yang kita lakukan di bulan
ramadhan, Dialah yang akan membalasnya.
Bulan ini juga memberi kesempatan kita
terhapus atas segala dosa-dosa kita.
Doa-doa ampunan atas segala kesalahan
terkabulkan, tentu dengan semangat
pengharapan terdalam dari diri kita.
Lewat perantaraan Rasulullah, juga
disebutkan tentang keistemewaan orang
yang berpuasa Sesungguhnya di surga
ada satu pintu bernama Al-Rayyan, dari
pintu ini akan masuk orang-orang yang
berpuasa pada hari kiamat, tidak ada
siapapun selain mereka yang akan
memasuki pintu ini, dikatakan, mana
orang-orang yang berpuasa..? Lalu mereka
semua berdiri, tidak ada satupun yang
memasuki pintu ini, jika orang-orang
yang berpuasa telah masuk, maka pintu
itu ditutup, sehingga tidak ada seorang
pun selain mereka yang memasukinya.
(Muttafaqunlaih).
Inilah dimensi transendental. Dimensi
keTuhanan. Allah SWT telah menjanjikan
kepada hambanya dengan kenikmatan kelak
di kemudian hari jika benar-benar
melakukan ibadah puasa dengan
semestinya, sesuai sunnah-sunnah yang
diajarkan Rasulullah. Maka, tak ada yang
kita lakukan, selain kita memaknai bulan
ini dengan bulan pembuktian cinta kita.
Kita isi hari-hari puasa kita dengan
ibadah-ibadah untuk semakin mendekatkan
diri kita kepada Allah SWT. Bukan untuk
apa-apa, semata-mata untuk meraih
keridhoan Allah saja.
Lantas, bagaimana dimensi
kemanusiaannya..? Puasa, sebenarnya ada
wujud solidaritas kemanusiaan. Sebulan
penuh kita melakukan puasa, menahan
lapar dan haus sepanjang pagi dan siang.
Makna yang bisa kita ambil sebenarnya
melatih kepekaan sosial kita, kepedulian
kita kepada sesama. Kita, mungkin hanya
sebulan merasakan lapar dan dahaga, tapi
diluar sana, bisa jadi teramat banyak
yang setiap hari menahan lapar, sudah
terbiasa hidup dengan amat kesulitan dan
memprihatinkan. Para pengemis itu,
gelandangan itu, buruh-buruh kasar itu,
orang-orang pinggiran kota itu, petani
miskin itu.
Sungguh inilah bulan pembuktian cinta
kita kepada sesama. Melihat dengan mata
hati kita, teramat bersyukur kita
sebenarnya. Sepanjang pagi dan siang
mungkin kita sama-sama menahan lapar.
Tapi ketika sore tiba, saat berbuka
puasa, makanan-makanan enak toh masih
sempat kita santap. Tidakkah kita pantas
bersyukur karenanya? Bagaimana
pembuktiannya, salah satunya adalah
dengan derma kita untuk sesama, semangat
untuk memberi dan berbagi dengan sesama.
Kita asah mata hati kita untuk lebih
peka atas nasib dan penderitaan orang
lain. Lantas, kita berikan kebahagiaan
sepanjang kita bisa untuk mereka.
Membuat mereka sejenak tersenyum.
Demikianlah ramadhan cinta menyapa kita,
tidakkah kita merindukannya..?
Cinta sejati seperti hantu. Semua orang
membicarakannya, tetapi sedikit sekali
yang benar-benar pernah melihatnya. Ah,
jangan-jangan kalimat ini benar.
Bagaimana kita akan menemukannya, jika
setiap kali melihat seseorang yang
rupawan kita "merasakan sesuatu",
"menyukainya". Setiap kali berinteraksi
dengan seseorang yang menarik (entah
apapun alasannya), kita selalu mendadak
merasakan getar-cinta. Bagaimana kita
akan menemukannya jika kita begitu saja
jatuh cinta. Menjadikan cinta seperti
memungut bebatuan di pinggir kali.
Banyak betebaran. Bosan bisa dilemparkan
jauh-jauh. Kurang, tinggal masukkan batu
yang lain ke dalam kantong lainnya.
Apakah perangai seperti itu disebut
cinta? Tentu saja bagi mereka juga
cinta. Tetapi cinta sejati mungkin tak
pernah sesederhana bebatuan.
Perkenankanlah aku mencintaimu
seperti ini
tanpa kekecewaan yang berarti
harapan-harapan yang setiap kali
dikecewakan kenyataan
biarlah dibayar oleh harapan-harapan
baru yang menjanjikan
Perkenankanlah aku mencintaimu
semampuku
menyebut-nyebut namamu
dalam kesendirian pun lumayan
berdiri di depan pintumu tanpa harapan
kau membukakannya pun terasa nyaman
sekali-kali membayangkan kau memperhatikanku
pun cukup memuaskan
perkenankanlah aku mencintaimu sebisaku…
Eumm..cinta?? cinta itu sebenarnya apa seh? Ada yg bilang kalo cinta itu buta, cinta itu persahabatan, dll. Menurutku ndak ada yg salah ma definisi cinta tsb, itu semua tergantung dari orang yg merasakan n mempersepsikannya..tp yg paling penting lagi, pada siapa cinta itu diperuntukkan. Pernah dengar lagunya Boys 2 man yg liriknya "The colour of love, is in you..?" ( ne lagu cinta pertamaku u/NYa n u/ semua makhluknya..yg dalam bahasa arab Ana uhibbuki/kafillah n dalam bahasa inggrisnya I love u coz AJJ1). Ingat, cintailah sesuatu itu hanya karena AJJ1 semata, krn dengan spt itu maka cinta qta i.AJJ1 akan indah…
Ada yg bs nambahin ndak definisi cinta yg sebenarnya itu spt apa?